Laman

Selasa, 02 November 2010

CINTA yang AMAN


FILOSOFI HIDUP

Mencintai tidak harus memiliki yang dicintai,tetapi yang harus dimiliki dan dicintai adalah cinta itu sendiri. Inilah jenis cinta yang aman


LELUCON

Lowongan Pekerjaan Untuk Pengangguran

Iyal dan Helmi adalah dua orang pengangguran yang sedang mencari pekerjaan.

Iyal : "Hel, susah ya sekarang cari kerjaan."
Helmi: "Sebenarnya ada sih kerjaan buat kamu. Kamu mau?"
Iyal : "Iya mau, kerja apa?"
Helmi: "Tolong carikan saya pekerjaan. Itu kerjanya."


TIPITAKA

Kisah Seorang Bhikkhu dari Negeri Kaum Vajji

Pada malam bulan purnama di bulan Kattika, penduduk Vesali merayakan festival perbintangan (nakkhatta) secara besar-besaran. Seluruh kota bersinar, dan ada banyak hiburan, dengan nyanyian, tarian, dll. Ketika itu ada seorang bhikkhu yang sedang melihat ke arah kota, sambil berdiri sendiri di vihara. Bhikkhu itu merasa kesepian dan tidak puas dengan keadaannya. perlahan, ia bergumam pada dirinya sendiri, "Tidak ada seorangpun yang keadaannya lebih buruk dariku". Saat itu juga makhluk halus penjaga hutan menghampirinya dan berkata,
"Makhluk-makhluk di alam neraka (niraya) iri hati terhadap keadaan makhluk-makhluk di alam dewa; demikian pula orang-orang iri hati dengan keadaan mereka yang hidup sendiri di dalam hutan." Mendengar kata-kata ini, bhikkhu tersebut menyadari kebenaran kata-kata itu dan ia menyesal bahwa ia berpikir sedemikian sempit terhadap keadaan seorang bhikkhu.
Pagi-pagi buta pada keesokan harinya, bhikkhu tersebut pergi menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian itu. Dalam jawaban Beliau, Sang Buddha menceritakan kepadanya tentang betapa sulitnya kehidupan semua makhluk.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 302 berikut :

Sungguh sukar untuk menempuh kehidupan tanpa rumah (Pabbajja); sungguh sukar untuk bergembira dalam menempuh kehidupan tanpa rumah. Kehidupan rumah tangga adalah sukar dan menyakitkan. Tinggal bersama mereka yang tidak sesuai sungguh menyakitkan. Hidup mengembara dalam proses tumimbal lahir (Samsara) juga menyakitkan. karena itu janganlah menjadi pengembara (dalam samsara), atau menjadi pengejar penderitaan.

Bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma berakhir.


VEGETARIAN

Vegetarian Mampu Tekan Risiko Penyakit Mematikan

International Vegetarian Society (IVS) memberi perhatian di Sultra dalam misi memasyarakatkan vegetarisme atau pola makan nabati. Sejak tiga tahun sebelumnya, organisasi nirlaba ini giat menyebarluaskan informasi seputar kehidupan vegetarian di daerah ini.
Menindaklanjuti sosialisasi pola makan nabati itu, Minggu (31/10) di Kendari, IVS menggelar seminar vegetarian dan dirangkaikan demo masak oleh Phips Samsie. Pada kesempatan itu, Mien Karmini Mahmud MS AP sebagai salah satu pembicara dalam seminar memaparkan fungsi tempe sebagai pengganti daging. Wanita yang mulai beralih menjadi vegetarian sejak beberapa tahun lalu ini mengungkapkan makanan terbuat dari kedelai tersebut memiliki protein setara daging.

Diakui Chief Operation Officer Secretary GEneral of Asian Vegetarian Union IVU Regional Coordinator For East, Drs Susianto MPH, mengubah pola makan seseorang dari hewani menjadi nabati sangatlah susah. Namun, dengan memberi pengetahuan pengaruh pola makan vegetarian terhadap kesehatan, bisa memotivasi mayarakat untuk mengubah pola hidupnya.

"Memang tidak mudah langsung menjadi vegetarian. Tapi perlahan-lahan, misalkan dengan mulai mengurangi konsumsi daging setiap hari secara bertahap. Atau menjadi vegan, yakni pengonsumsi telur dan susu untuk mengganti asupan protein dari daging," ucap Susianto pada Kendari Ekspres.

Susianto menjelaskan, selain berefek positif bagi lingkungan hidup, pola makan vegetarian terbukti mampu menekan risiko sejumlah penyakit mematikan akibat burukya pola makan seperti kangker payudara, kangker leher rahim, penyakit jantung, dan lain-lain. Khusus penyakit jantung koroner, seseorang yang kerap mengonsumsi daging dan merokok berisiko 70 persen terserang penyakit tersebut.

"Jika dia mulai berhenti merokok, namun masih mengonsumsi daging risikonya turun menjadi 50 persen. Jika perlahan dia mulai menjadi seorang vegan (mengganti kosumsi hewaninya dengan susu dan telur, red), maka risiko terkena penyakit jantung koroner menjadi 39 persen. Sebaliknya, jika dia murni menjadi seorang vegetarian drastis risikonya menjadi 14 persen saja," papar Susianto.

Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Amin Yohanis, sangat merespons positif seminar bertema "vegetarian sehat untuk anda dan sehat untuk bumi" yang dilakukan IVS ini. Pasalnya, IVS melalui slogan vegetariannya terbukti mampu menekan risiko penyakit degeneratif. Apalagi, saat ini di Indonesia, Sultra masuk dalam urutan ketujuh risiko tertinggi terserang penyakit akibat buruknya pola hidup.

Kiprah IVS dalam memajukan kualitas hidup masyarakat terbilang sukses. Sejak berdiri di Indonesia pada 1998, organisasi yang kini memiliki 51 cabang di seluruh Indonesia termasuk salah satunya di Kota Kendari rutin menggelar kongres vegetarian, seminar vegetarian, festival dan demo masak ala vegetarian, menerbitkan dan menerjemahkan buku vegetarian, dan sejumlah kegiatan lain yang erat dengan pola hidup sehat.

Anggota IVS pun kian bertambah dari awalnya 5.000 orang, kini menjadi 60.000 orang. Begitu pula pula sosialisasi pola makan ala vegetarian telah menumbuhkan sektor ekonomi dengan berkembangnya sejumlah restoran ala produk nabati.

"Dulu hanya ada 50 sampai 60 restoran vegetarian di Indonesia. Sekarang menjadi 600 restoran lebih. Sepuluh persen di antaranya ada di Jakarta," kata Susianto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar