Tampilkan postingan dengan label PIKIRAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIKIRAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 November 2012
HATI DAMAI
FILOSOFI HIDUP
Pikiran yang tenang dan hati yang damai tidak perlu mikir yang tidak perlu. Tidak semua hal di dunia harus dipikirkan ?
LELUCON
Ujian Ulangan untuk anak Berotak Lambat
Seorang pelatih memohon kepada Profesor untuk memberikan ujian ulangan kepada anaknya yang memang berotak lambat. Setelah didesak terus, akhirnya sang Profesor memberikan ujian ulangan itu.
Keesokan harinya sang pelatih menemui sang Profesor dan bertanya : "Bagaimana ujiannnya si Jono, Prof?"
"Wah, maaf," kata Profesor, "Tidak ada harapan lagi. Coba lihat ini... 7x5 = 34"
"Ya, ampun, Prof," kata si pelatih, "masa begitu saja harus gagal sih. Itu kan cuma kurang satu..."
TIPITAKA
Kisah Bhikkhu yang Berteman Dengan Bhikkhu Pengikut Devadatta
Suatu ketika seorang bhikkhu murid Sang Buddha berteman akrab dengan pengikut Devadatta. Ia sering berkunjung dan tinggal selama beberapa hari di vihara tempat Devadatta berdiam.
Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal itu kepada Sang Buddha, bahwa terdapat seorang bhikkhu murid Sang Buddha yang bergaul akrab dengan pengikut-pengikut Devadatta, sehingga ia sering berkunjung, bahkan menginap beberapa hari, makan, tidur, dan menikmati berbagai fasilitas yang terdapat pada vihara milik Devadatta.
Sang Buddha mengundang bhikkhu itu, dan meminta keterangan darinya. Sang Buddha mengatakan bahwa Beliau telah mendengar berita tentang kelakuan bhikkhu tersebut apakah berita itu benar. Bhikkhu itu mengakui bahwa ia telah berdiam beberapa hari di vihara milik Devadatta, tetapi ia berkata kepada Sang Buddha bahwa ia tidak mengikuti ajaran Devadatta.
Kemudian Sang Buddha menegur dan menunjukkan bahwa apa yang bhikkhu itu lakukan sesungguhnya membuat ia menjadi seperti pengikut Devadatta.
Kepada Bhikkhu itu Sang Buddha mengatakan : “Anak-Ku, meskipun engkau tidak mengikuti ajaran Devadatta, tetapi engakau memperlakukan dirimu seperti salah satu pengikut Devadatta. Seorang bhikkhu hendaknya puas dengan apa yang telah diperolehnya, dan jangan iri hati terhadap apa yang diperoleh orang lain. Seorang bhikkhu yang penuh dengan kecemburuan pada perolehan bhikkhu lain tidak akan mencapai pemusatan batin dan pandangan terang, atau jalan menuju ‘Kebebasan Mutlak’ (nibbana). Hanya bhikkhu yang puas dengan apa yang telah ia peroleh akan mendapatkan pemusatan pikiran, pandangan terang, dan jalan menuju ‘Kebebasan Mutlak’.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 365 dan 366 berikut :
Hendaklah ia tidak mencela apa yang telah ia peroleh,
juga hendaklah ia tidak merasa iri terhadap
apa yang telah diperoleh orang lain.
Seorang bhikkhu yang merasa iri terhadap
apa yang diperoleh orang lain,
tidak akan dapat mencapai perkembangan dalam semadi.
Walaupun hanya memperoleh sedikit,
tetapi apabila seseorang bhikkhu tidak mencela
apa yang telah diperolehnya,
maka para dewapun akan memuji orang seperti itu,
yang memiliki kehidupan bersih serta tidak malas.
VEGETARIAN
Mengenal Pola Vegetarian Lebih Dekat
Tertarik menjadi seorang vegetarian? Anda perlu tahu fakta-fakta berikut ini:
Bisa kekurangan zat besi?
Kemampuan pencernaan manusia untuk mengolah dan menyerap zat besi dari sumber nabati lebih rendah. Jika Anda ingin menjadi vegan, Anda harus lebih serius memperdalam pengetahuan tentang makanan dan kandungannya. Diperlukan variasi yang sangat beragam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi secara optimal. Minum suplemen untuk zat besi, vitamin B kompleks, dan kalsium magnesium sangat dianjurkan.
Vegetarian melemahkan kinerja otak?
Yang membuat tubuh menjadi lemas dan proses berpikir menjadi terganggu apabila pola makan vegetarian ini dilakukan secara asal-asalan. Akibatnya, variasi dan pilihan makanan tidak terjaga, asupan karbohidrat menjadi rendah.
Vegetarian membuat lemas?
Salah. Sugesti diri yang mengatakan bahwa tanpa makan daging tubuh menjadi lemas. Sebab, energi tidak melulu diperoleh dari daging, tapi dari karbohidrat yang melalui proses kimia dalam tubuh diubah menjadi energi. Jelas bahwa sumber karbohidrat adalah dari nabati.
Vegetarian membuat orang menjadi lebih tenang?
Absennya produk hewani ternyata berdampak positif terhadap kesehatan rohani, terutama pada kontrol emosi. Hal ini dikarenakan hormon di dalam tubuh tidak terkontaminasi dengan hormon dari hewan yang dikonsumsi, sehingga membuat emosi lebih stabil. Mengenal Pola Vegetarian Lebih Dekat
Rabu, 14 November 2012
PIKIRAN ALAM BAWAH SADAR
FILOSOFI HIDUP
Hentikan kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk terekam di alam bawah sadar
LELUCON
Pengumuman di Bus
Pengumuman ini terdengar di sebuah bus di Jakarta.
"Ketika anda turun dari bus, harap pastikan untuk sedikit menurunkan kepala anda agar tidak terantuk pintu dan perhatikan langkah anda, kaki kiri terlebih dahulu."
"Seandainya anda salah langkah dan jatuh tersungkur, mohon untuk sedikit menurunkan suara anda dan perhatikan bahasa anda. Terima kasih."
TIPITAKA
Kisah Dhammarama Thera
Ketika beredar berita di kalangan para murid bahwa Sang Buddha akan mangkat (parinibbana) dalam waktu empat bulan lagi; banyak di antara para bhikkhu puthujjana, yang belum mencapai tingkat kesucian, mengalami tekanan batin, merasa kehilangan. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Pada umumnya mereka berusaha berada dekat dengan Sang Buddha, tidak ingin bepergian jauh dari Beliau.
Ketika itu ada seorang bhikkhu yang bernama Dhammarama yang tinggal menyendiri dan tidak pergi mendekat kepada Sang Buddha. Perhatian beliau diarahkan pada perjuangannya untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha meninggal dunia. Ia melaksanakan meditasi ‘Pandangan Terang’ (Vipassana Bhavana) dengan tekun. Kawan-kawan bhikkhu yang lain tidak mengerti apa harapan beliau dan apa yang sedang dilakukannya, mereka memiliki pengertian keliru perihal kelakukan Bhikkhu Dhammarama itu.
Kawan-kawan bhikkhu tersebut bersama Bhikkhu Dhammarama menemui Sang Buddha, dan mereka berkata kepada Sang Bhagava : “Bhante, bhikkhu ini kelihatan tidak mau peduli, tidak menghormat, dan tidak berbakti kepada Bhante. Ia terlihat menyendiri pada saat para bhikkhu lain sedang berada di dekat Bhante.”
Setelah kawan-kawan bhikkhu itu menceritakan semua pandangannya, Bhikkhu Dhammarama dengan penuh hormat menjelaskan kepada Sang Buddha apa yang sesungguhnya merupakan harapannya, dan juga apa yang telah dilaksanakannya dengan mempraktekkan Vipassana Bhavana.
Sang Buddha sangat puas dan menghargai apa yang telah diungkapkan dan dilakukan oleh Bhikkhu Dhammarama, kemudian berkata : “Anakku Dhammarama, engkau telah berperilaku sangat baik. Seorang bhikkhu yang mencintai dan menghormat kepada-Ku hendaknya berkelakuan seperti engkau. Mereka yang mempersembahkan bunga, pelita, dan dupa kepada-Ku tidaklah benar-benar memberi hormat kepada-Ku. hanya mereka yang melaksanakan Dhamma, ajaran-Ku, adalah benar-benar seseorang yang memberikan hormat kepada-Ku.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 364 berikut :
Seorang bhikkhu yang selalu berdiam dalam Dhamma
dan gembira dalam Dhamma,
yang selalu merenungkan dan mengingat-ingat akan Dhamma,
maka bhikkhu itu tidak akan tergelincir dari Jalan Benar Yang Mulia.
Dhammarama Thera mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
VEGETARIAN
Cegah Rontok, Jadilah Vegetarian!
Rambut yang lebat, sehat, dan tidak rontok adalah dambaan setiap orang karena rambut adalah mahkota tubuh kita. Lantas bagaimana jika rambut anda suka rontok? Nah, untuk mengatasinya maka beralihlah menjadi vegetarian.
Banyak orang mengira vegetarian punya tubuh lemah dan sakit-sakitan. Bahkan, ada juga yang berpikir vegetarian dapat berdampak buruk pada masalah rambut contohnya kerontokan.
Anggapan dan pemikiran itu ternyata salah. Sebaliknya, diet vegetarian telah terbukti dapat menjaga kesehatan jantung, rambut dan membantu penurunan berat badan.
Berikut adalah beberapa makanan vegetarian yang bagus untuk kesehatan rambut anda, seperti dilansir Boldsky:
1. Sayuran Hijau
Sayuran hijau sangat sehat untuk rambut karena mereka kaya vitamin C. Besi tidak dapat diserap tanpa bantuan vitamin C. Sayuran berdaun hijau tersebut, contohnya bayam dan sawi.
2. Kedelai
Rambut pada dasarnya terdiri dari protein. Karena itulah protein sangat penting untuk pertumbuhan dan perbaikan rambut rusak maupun rontok.
3. Buncis
Beberapa mineral penting seperti seng bisa didapatkan dari makanan vegetarian seperti buncis. Seng membantu mencegah ketombe dan menjaga rambut sehat.
Hentikan kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk terekam di alam bawah sadar
LELUCON
Pengumuman di Bus
Pengumuman ini terdengar di sebuah bus di Jakarta.
"Ketika anda turun dari bus, harap pastikan untuk sedikit menurunkan kepala anda agar tidak terantuk pintu dan perhatikan langkah anda, kaki kiri terlebih dahulu."
"Seandainya anda salah langkah dan jatuh tersungkur, mohon untuk sedikit menurunkan suara anda dan perhatikan bahasa anda. Terima kasih."
TIPITAKA
Kisah Dhammarama Thera
Ketika beredar berita di kalangan para murid bahwa Sang Buddha akan mangkat (parinibbana) dalam waktu empat bulan lagi; banyak di antara para bhikkhu puthujjana, yang belum mencapai tingkat kesucian, mengalami tekanan batin, merasa kehilangan. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Pada umumnya mereka berusaha berada dekat dengan Sang Buddha, tidak ingin bepergian jauh dari Beliau.
Ketika itu ada seorang bhikkhu yang bernama Dhammarama yang tinggal menyendiri dan tidak pergi mendekat kepada Sang Buddha. Perhatian beliau diarahkan pada perjuangannya untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha meninggal dunia. Ia melaksanakan meditasi ‘Pandangan Terang’ (Vipassana Bhavana) dengan tekun. Kawan-kawan bhikkhu yang lain tidak mengerti apa harapan beliau dan apa yang sedang dilakukannya, mereka memiliki pengertian keliru perihal kelakukan Bhikkhu Dhammarama itu.
Kawan-kawan bhikkhu tersebut bersama Bhikkhu Dhammarama menemui Sang Buddha, dan mereka berkata kepada Sang Bhagava : “Bhante, bhikkhu ini kelihatan tidak mau peduli, tidak menghormat, dan tidak berbakti kepada Bhante. Ia terlihat menyendiri pada saat para bhikkhu lain sedang berada di dekat Bhante.”
Setelah kawan-kawan bhikkhu itu menceritakan semua pandangannya, Bhikkhu Dhammarama dengan penuh hormat menjelaskan kepada Sang Buddha apa yang sesungguhnya merupakan harapannya, dan juga apa yang telah dilaksanakannya dengan mempraktekkan Vipassana Bhavana.
Sang Buddha sangat puas dan menghargai apa yang telah diungkapkan dan dilakukan oleh Bhikkhu Dhammarama, kemudian berkata : “Anakku Dhammarama, engkau telah berperilaku sangat baik. Seorang bhikkhu yang mencintai dan menghormat kepada-Ku hendaknya berkelakuan seperti engkau. Mereka yang mempersembahkan bunga, pelita, dan dupa kepada-Ku tidaklah benar-benar memberi hormat kepada-Ku. hanya mereka yang melaksanakan Dhamma, ajaran-Ku, adalah benar-benar seseorang yang memberikan hormat kepada-Ku.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 364 berikut :
Seorang bhikkhu yang selalu berdiam dalam Dhamma
dan gembira dalam Dhamma,
yang selalu merenungkan dan mengingat-ingat akan Dhamma,
maka bhikkhu itu tidak akan tergelincir dari Jalan Benar Yang Mulia.
Dhammarama Thera mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
VEGETARIAN
Cegah Rontok, Jadilah Vegetarian!
Rambut yang lebat, sehat, dan tidak rontok adalah dambaan setiap orang karena rambut adalah mahkota tubuh kita. Lantas bagaimana jika rambut anda suka rontok? Nah, untuk mengatasinya maka beralihlah menjadi vegetarian.
Banyak orang mengira vegetarian punya tubuh lemah dan sakit-sakitan. Bahkan, ada juga yang berpikir vegetarian dapat berdampak buruk pada masalah rambut contohnya kerontokan.
Anggapan dan pemikiran itu ternyata salah. Sebaliknya, diet vegetarian telah terbukti dapat menjaga kesehatan jantung, rambut dan membantu penurunan berat badan.
Berikut adalah beberapa makanan vegetarian yang bagus untuk kesehatan rambut anda, seperti dilansir Boldsky:
1. Sayuran Hijau
Sayuran hijau sangat sehat untuk rambut karena mereka kaya vitamin C. Besi tidak dapat diserap tanpa bantuan vitamin C. Sayuran berdaun hijau tersebut, contohnya bayam dan sawi.
2. Kedelai
Rambut pada dasarnya terdiri dari protein. Karena itulah protein sangat penting untuk pertumbuhan dan perbaikan rambut rusak maupun rontok.
3. Buncis
Beberapa mineral penting seperti seng bisa didapatkan dari makanan vegetarian seperti buncis. Seng membantu mencegah ketombe dan menjaga rambut sehat.
Kamis, 27 September 2012
PIKIRAN POSITIF
FILOSOFI HIDUP
Bila memikirkan sesuatu ternyata hanya membuatmu sedih, maka segera ahlihkan pikiranmu, pikirkan hal yang lain dan positiflah
LELUCON
Salah Mengenal Seseorang
Pada suatu sore, dua mantan teman sekolah pada masa kanak-kanak bertemu di tengah jalan.
Yang satu dengan aktif menggandeng tangan yang lain: "Hai, Rusli, kita sudah beberapa tahun tidak ketemu. Perubahanmu sungguh besar sekali. Mukamu yang kemerah-merahan sekarang telah berubah menjadi pucat lesu, perawakanmu dulu tinggi besar, sekarang kok berubah jadi pendek kecil. Apa-apaan ni?"
"Aku bukan Rusli..." jawab yang lain.
"Aduh, sampai namamu pun diganti, hehe..."
TIPITAKA
Kisah Deva Ankura
Sang Buddha mengunjungi alam dewa Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada Dewa Santusita, yang sebelumnya adalah ibu kandung Beliau. Selama masa itu, terdapat dewa yang bernama Indaka di alam dewa Tavatimsa. Indaka, dalam kehidupannya yang lampau adalah seorang pria, yang telah mempersembahkan sedikit dana makanan pada Anuruddha Thera. Karena perbuatan baik ini dilakukan kepada seorang Thera dalam masa keberadaan ajaran Buddha, maka ia mendapat pahala berlipat ganda. Kemudian, setelah kematian, dia dilahirkan kembali dalam alam Tavatimsa dan menikmati kemewahan alam dewa. Pada saat itu, terdapat dewa lain yang bernama Ankura di alam dewa Tavatimsa yang telah banyak memberikan dana; jauh lebih banyak dari pada apa yang telah Indaka berikan. Tetapi dana itu dilakukan di luar masa keberadaan ajaran Buddha. Sehingga meskipun dananya besar dan banyak, ia menikmati pahala kehidupan dewa dalam ukuran yang lebih kecil dari pada Indaka yang telah mempersembahkan sangat sedikit dana.
Ketika Sang Buddha berada di Tavatimsa, Ankura bertanya kepada Beliau alasan ketidak-sesuaian perolehan pahala itu. Kepadanya Sang Buddha menjawab, “O Dewa! Ketika memberikan dana kamu seharusnya memilih kepada siapa kamu memberi, karena perbuatan dana seperti halnya menanam bibit. Bibit yang ditanam di tanah yang subur akan tumbuh menjadi pohon atau tanaman yang kuat dan hebat, serta akan menghasilkan banyak buah; tetapi kamu telah menebarkan bibitmu di tanah yang tandus, sehingga kamu memperoleh sangat sedikit.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 356 sampai dengan 359 berikut ini :
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
nafsu indria merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
kebencian merupakan bencana bagi manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
ketidak-tahuan merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
iri hati merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
VEGETARIAN
Jadi Vegetarian? Why Not
Mendengar kata vegetarian, yang ada di benak kita pasti orang yang makannya sayur, buah-buahan, dan tidak makan daging. Ya, tidak salah kok. Vegetarian (bisa dibilang) merupakan sebuah pilihan yang dianut oleh orang-orang yang tidak mengonsumsi daging-dagingan beserta olahannya, melainkan hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Paham vegetarian ini banyak dikaitkan dengan keyakinan tertentu, salah satunya pada agama Hindu. Tidak heran mengapa sebagian besar penduduk India yang merupakan pemeluk Hindu menjadi komunitas vegetarian terbesar di dunia.
Vegetarian sendiri diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, namun secara garis besar terbagi menjadi 3:
1. Lacto-ovo Vegetarian: Jenis vegetarian yang masih mengonsumsi telur, susu, dan aneka olahannya.
2. Ovo-vegetarian: Jenis vegetarian yang sudah tidak mengonsumsi olahan susu namun masih mengonsumsi telur.
3. Vegan: Kelas tertinggi dalam kasta vegetarian yang tidak lagi mengonsumsi aneka olahan produk hewani.
Saya sendiri sudah sekitar 7 bulan terakhir memilih untuk tidak lagi mengonsumsi daging dan aneka olahannya, boleh dibilang saya termasuk pada jenis yang pertama: Lacto-ovo vegetarian. Saya masih minum susu dan makan telur, karena saya masih suka dan membutuhkan energi dari kedua sumber tersebut.
Lalu kenapa memilih menjadi Vegetarian?
Hmmm… Saya juga masih bingung kalau ditanya demikian, bukan karena ingin keren-kerenan, tapi karena banyak sekali pertimbangannya hingga akhirnya saya pelan-pelan meng-adjust sistem pencernaan ini dengan tidak mengonsumsi daging. Singkatnya, saya punya 3 alasan sederhana:
Pertama, tentu alasan kesehatan. Saya termasuk orang yang paranoid dengan kesehatan sendiri, namun untungnya adalah saya jadi sangat (terlalu) aware terhadap perubahan-perubahan pada tubuh saya. Saya sempat menderita maag dan mantan penderita konstipasi (sembelit) akut. Kurang minum air sedikit saja, besoknya langsung tidak bisa BAB. Saking parahnya sejak tahun 2011 lalu, saya mulai menandai kalender dengan jadwal BAB saya. Dan selama lebih kurang 6 bulan, hasilnya sangat mengejutkan: rata-rata dalam 1 minggu saya hanya BAB 3 kali dan sebagian besarnya keluar dengan sulit! Memang cukup ekstrim kalau hanya gara-gara sembelit saja saya jadi tidak lagi makan daging, tapi saya punya feeling yang kuat kalau perut saya cukup tidak ramah dalam mengolah daging.
Kedua, penyediaan daging sebagai bahan makanan sudah menjadi industri yang tidak manusiawi lagi. Saya masih ingat reportase sebuah TV swasta yang menayangkan kejamnya penyiksaan terhadap sapi sebelum disembelih; mulai dari penyuntikan hingga penggembungan dengan menyesakkan selang air ke perut sapi sampai menggelepar-gelepar tidak berdaya. Itu belum seberapa, setelah disembelih hingga proses pendistribusian daging pun tidak terkira banyaknya sentuhan-sentuhan gaib yang menjadikan daging tersebut mati nutrisi alias contains nothing. Memang tidak semua industri pengolahan daging seperti demikian, tentu masih ada industri yang clean and pure tapi dugaan saya jumlahnya semakin sedikit.
Ketiga, cukup singkat dan mudah, yaitu karena saya memang tidak terlalu suka daging. Kalau di meja makan tersedia pilihan: rendang, ayam goreng, ikan kembung, dan tempe bacem, pilihan saya jatuh pada tempe bacem, sekerat ikan kembung, dan sedikit kuah rendang. Jadi setelah saya timbang-timbang, tidak akan terlalu berat rasanya untuk say goodbye dengan daging sapi.
Setelah 7 bulan berlalu, perubahan apa yang terjadi?
Banyak! Pada 2 bulan pertama jadi sering merasa lemas, dugaan saya karena anemia (dan ternyata benar setelah mengecek kadar Hb darah). Solusinya saya minum tablet penambah darah dan memperbanyak konsumsi telur. Lewat dari 2 bulan tersebut, frekuensi BAB jadi semakin rutin dan konsistensinya tidak lagi keras. Kemudian sendawa dan jerawat jadi semakin berkurang (entah ini ada hubungannya atau tidak).
Bicara berat badan, ternyata tidak berpengaruh banyak. Sempat turun sekitar 2 kilo, tapi sekarang sudah stabil. Satu yang saya pahami, menjadi vegetarian bukanlah cara yang tepat untuk menurunkan berat badan, dan itu memang saya rasakan sendiri.
Bicara pendapat orang-orang sekitar, tante saya yang pintar masak sempat ngeledek: “Yakin ngga mau makan daging lagi? Sudahlah jangan lebay“. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Saya akui memang tidak mudah, apalagi jika keluarga sebagai lingkungan terdekat tidak mendukung. Bahkan teman saya ada yang bilang: “Itu kan tidak mensyukuri nikmat Allah” dan “Itu sama saja dengan mengharamkan apa yang sudah dihalalkan Allah“
Wah, cukup tajam nih. Tapi saya punya pembelaan sendiri. Saya bukannya tidak mensyukuri, apalagi mengharamkan apa yang sudah dihalalkan. Saya hanya memilih untuk tidak memasukkannya kedalam piring makan saya. Icip-icip sedikit saya rasa wajar, dan saya sama sekali tidak menghindarinya seperti pork. Cukup simpel.
Seorang guru saya pernah berpesan: “Selalu ingat ini dalam setiap jamuan: take what you want, but eat what you take“
So, it all starts from our plate!
Bila memikirkan sesuatu ternyata hanya membuatmu sedih, maka segera ahlihkan pikiranmu, pikirkan hal yang lain dan positiflah
LELUCON
Salah Mengenal Seseorang
Pada suatu sore, dua mantan teman sekolah pada masa kanak-kanak bertemu di tengah jalan.
Yang satu dengan aktif menggandeng tangan yang lain: "Hai, Rusli, kita sudah beberapa tahun tidak ketemu. Perubahanmu sungguh besar sekali. Mukamu yang kemerah-merahan sekarang telah berubah menjadi pucat lesu, perawakanmu dulu tinggi besar, sekarang kok berubah jadi pendek kecil. Apa-apaan ni?"
"Aku bukan Rusli..." jawab yang lain.
"Aduh, sampai namamu pun diganti, hehe..."
TIPITAKA
Kisah Deva Ankura
Sang Buddha mengunjungi alam dewa Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada Dewa Santusita, yang sebelumnya adalah ibu kandung Beliau. Selama masa itu, terdapat dewa yang bernama Indaka di alam dewa Tavatimsa. Indaka, dalam kehidupannya yang lampau adalah seorang pria, yang telah mempersembahkan sedikit dana makanan pada Anuruddha Thera. Karena perbuatan baik ini dilakukan kepada seorang Thera dalam masa keberadaan ajaran Buddha, maka ia mendapat pahala berlipat ganda. Kemudian, setelah kematian, dia dilahirkan kembali dalam alam Tavatimsa dan menikmati kemewahan alam dewa. Pada saat itu, terdapat dewa lain yang bernama Ankura di alam dewa Tavatimsa yang telah banyak memberikan dana; jauh lebih banyak dari pada apa yang telah Indaka berikan. Tetapi dana itu dilakukan di luar masa keberadaan ajaran Buddha. Sehingga meskipun dananya besar dan banyak, ia menikmati pahala kehidupan dewa dalam ukuran yang lebih kecil dari pada Indaka yang telah mempersembahkan sangat sedikit dana.
Ketika Sang Buddha berada di Tavatimsa, Ankura bertanya kepada Beliau alasan ketidak-sesuaian perolehan pahala itu. Kepadanya Sang Buddha menjawab, “O Dewa! Ketika memberikan dana kamu seharusnya memilih kepada siapa kamu memberi, karena perbuatan dana seperti halnya menanam bibit. Bibit yang ditanam di tanah yang subur akan tumbuh menjadi pohon atau tanaman yang kuat dan hebat, serta akan menghasilkan banyak buah; tetapi kamu telah menebarkan bibitmu di tanah yang tandus, sehingga kamu memperoleh sangat sedikit.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 356 sampai dengan 359 berikut ini :
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
nafsu indria merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
kebencian merupakan bencana bagi manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
ketidak-tahuan merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merupakan bencana bagi sawah dan ladang;
iri hati merupakan bencana bagi manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada
mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
VEGETARIAN
Jadi Vegetarian? Why Not
Mendengar kata vegetarian, yang ada di benak kita pasti orang yang makannya sayur, buah-buahan, dan tidak makan daging. Ya, tidak salah kok. Vegetarian (bisa dibilang) merupakan sebuah pilihan yang dianut oleh orang-orang yang tidak mengonsumsi daging-dagingan beserta olahannya, melainkan hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Paham vegetarian ini banyak dikaitkan dengan keyakinan tertentu, salah satunya pada agama Hindu. Tidak heran mengapa sebagian besar penduduk India yang merupakan pemeluk Hindu menjadi komunitas vegetarian terbesar di dunia.
Vegetarian sendiri diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, namun secara garis besar terbagi menjadi 3:
1. Lacto-ovo Vegetarian: Jenis vegetarian yang masih mengonsumsi telur, susu, dan aneka olahannya.
2. Ovo-vegetarian: Jenis vegetarian yang sudah tidak mengonsumsi olahan susu namun masih mengonsumsi telur.
3. Vegan: Kelas tertinggi dalam kasta vegetarian yang tidak lagi mengonsumsi aneka olahan produk hewani.
Saya sendiri sudah sekitar 7 bulan terakhir memilih untuk tidak lagi mengonsumsi daging dan aneka olahannya, boleh dibilang saya termasuk pada jenis yang pertama: Lacto-ovo vegetarian. Saya masih minum susu dan makan telur, karena saya masih suka dan membutuhkan energi dari kedua sumber tersebut.
Lalu kenapa memilih menjadi Vegetarian?
Hmmm… Saya juga masih bingung kalau ditanya demikian, bukan karena ingin keren-kerenan, tapi karena banyak sekali pertimbangannya hingga akhirnya saya pelan-pelan meng-adjust sistem pencernaan ini dengan tidak mengonsumsi daging. Singkatnya, saya punya 3 alasan sederhana:
Pertama, tentu alasan kesehatan. Saya termasuk orang yang paranoid dengan kesehatan sendiri, namun untungnya adalah saya jadi sangat (terlalu) aware terhadap perubahan-perubahan pada tubuh saya. Saya sempat menderita maag dan mantan penderita konstipasi (sembelit) akut. Kurang minum air sedikit saja, besoknya langsung tidak bisa BAB. Saking parahnya sejak tahun 2011 lalu, saya mulai menandai kalender dengan jadwal BAB saya. Dan selama lebih kurang 6 bulan, hasilnya sangat mengejutkan: rata-rata dalam 1 minggu saya hanya BAB 3 kali dan sebagian besarnya keluar dengan sulit! Memang cukup ekstrim kalau hanya gara-gara sembelit saja saya jadi tidak lagi makan daging, tapi saya punya feeling yang kuat kalau perut saya cukup tidak ramah dalam mengolah daging.
Kedua, penyediaan daging sebagai bahan makanan sudah menjadi industri yang tidak manusiawi lagi. Saya masih ingat reportase sebuah TV swasta yang menayangkan kejamnya penyiksaan terhadap sapi sebelum disembelih; mulai dari penyuntikan hingga penggembungan dengan menyesakkan selang air ke perut sapi sampai menggelepar-gelepar tidak berdaya. Itu belum seberapa, setelah disembelih hingga proses pendistribusian daging pun tidak terkira banyaknya sentuhan-sentuhan gaib yang menjadikan daging tersebut mati nutrisi alias contains nothing. Memang tidak semua industri pengolahan daging seperti demikian, tentu masih ada industri yang clean and pure tapi dugaan saya jumlahnya semakin sedikit.
Ketiga, cukup singkat dan mudah, yaitu karena saya memang tidak terlalu suka daging. Kalau di meja makan tersedia pilihan: rendang, ayam goreng, ikan kembung, dan tempe bacem, pilihan saya jatuh pada tempe bacem, sekerat ikan kembung, dan sedikit kuah rendang. Jadi setelah saya timbang-timbang, tidak akan terlalu berat rasanya untuk say goodbye dengan daging sapi.
Setelah 7 bulan berlalu, perubahan apa yang terjadi?
Banyak! Pada 2 bulan pertama jadi sering merasa lemas, dugaan saya karena anemia (dan ternyata benar setelah mengecek kadar Hb darah). Solusinya saya minum tablet penambah darah dan memperbanyak konsumsi telur. Lewat dari 2 bulan tersebut, frekuensi BAB jadi semakin rutin dan konsistensinya tidak lagi keras. Kemudian sendawa dan jerawat jadi semakin berkurang (entah ini ada hubungannya atau tidak).
Bicara berat badan, ternyata tidak berpengaruh banyak. Sempat turun sekitar 2 kilo, tapi sekarang sudah stabil. Satu yang saya pahami, menjadi vegetarian bukanlah cara yang tepat untuk menurunkan berat badan, dan itu memang saya rasakan sendiri.
Bicara pendapat orang-orang sekitar, tante saya yang pintar masak sempat ngeledek: “Yakin ngga mau makan daging lagi? Sudahlah jangan lebay“. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Saya akui memang tidak mudah, apalagi jika keluarga sebagai lingkungan terdekat tidak mendukung. Bahkan teman saya ada yang bilang: “Itu kan tidak mensyukuri nikmat Allah” dan “Itu sama saja dengan mengharamkan apa yang sudah dihalalkan Allah“
Wah, cukup tajam nih. Tapi saya punya pembelaan sendiri. Saya bukannya tidak mensyukuri, apalagi mengharamkan apa yang sudah dihalalkan. Saya hanya memilih untuk tidak memasukkannya kedalam piring makan saya. Icip-icip sedikit saya rasa wajar, dan saya sama sekali tidak menghindarinya seperti pork. Cukup simpel.
Seorang guru saya pernah berpesan: “Selalu ingat ini dalam setiap jamuan: take what you want, but eat what you take“
So, it all starts from our plate!
Kamis, 13 Oktober 2011
PIKIRAN KOKOH
FILOSOFI HIDUP Kadang kala penyebab kebahagiaan timbul namun sebab penderitaan banyak sekali. Tanpa adanya penderitaan tak mungkin ada pelepasan. Karena itu, wahai pikiran, engkau harus berdiri kokoh
LELUCON
Seorang wanita paruh baya memasuki salon sambil menggendong seorang anak. Setelah wanita itu selesai potong rambut, kini giliran anak tersebut.
"Tunggu sebentar ya?" kata wanita itu kepada si anak yang duduk di kursi salon, "Aku beli minuman sebentar."
Ketika anak itu selesai potong rambut, wanita itu belum juga kembali. "Mungkin ibumu lupa engkau masih di sini," kata seorang pegawai salon kepada anak tersebut.
"Dia bukan ibuku," jawabnya, "Aku bertemu dengannya di jalan, dan dia berkata padaku, 'Hai, Nak. Kau mau ke salon gratis?'"
TIPITAKA
Kisah Kapila dan Ikan
Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar dalam Kitab Suci (Pitaka). Karena sangat terpelajarnya, ia memperoleh kemasyuran dan keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain menunjukkan padanya apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu saja menjawab dengan pedas, “Berapa banyak yang kau tahu?” Hal itu menyiratkan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-bhikkhu yang tidak baik berada di sekelilingnya.
Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang ‘Peraturan Pokok’ bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila berkata, “Tidak ada apa yang dikatakan sebagai Sutta, Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah kamu mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau tidak,” dan lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang sedang berkumpul. Jadi, Kapila merupakan rintangan bagi pengembangan dan pertumbuhan Ajaran (Sasana).
Untuk perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam neraka (niraya) antara masa Buddha Kasapa dan Buddha Gotama. Setelah itu ia dilahirkan kembali sebagai seekor ikan di Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti disebutkan di atas, mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.
Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan karena sangat indah, mereka membawanya kepada Raja. Kemudian Raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak dan sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada Sang Buddha, mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang sedemikian tidak enak dan menusuk hidung.
Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha menjelaskan, “O Raja! Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, yang mengajarkan Dhamma pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia dilahirkan kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor ikan, ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain; ia juga mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an (Vinaya), dan mencaci maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk ini, ia dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk.”
Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya apakah ia mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada kehidupan yang akan datang. Ikan tersebut memberi isyarat bahwa ia akan masuk kembali ke alam neraka (niraya) dan ia dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka (niraya), untuk menerima akibat perbuatan buruk lain.
Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut menjadi terkejut. Pada mereka, Sang Buddha memberikan khotbah tentang manfaat mengkombinasikan antara belajar dengan praktek.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 334, 335, 336, dan 337 berikut ini :
Bila seseorang hidup lengah,
maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang senang mencari
buah-buahan di dalam hutan.
Dalam dunia ini,
siapapun yang dikuasai oleh
nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat
karena disirami dengan baik.
Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan
yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya,
seperti air yang jatuh dari daun teratai.
Kuberitahukan hal ini kepadamu:
Semoga engkau sekalian yang telah datang
berkumpul di sini memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu,
seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara
menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang
yang tumbuh di tepi.
VEGETARIAN
Ajaran Buddha sebenarnya tidak mengecam ataupun menganjurkan praktik vegetarian. Di dalam sutta-sutta, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa praktik vegetarian adalah benar atau salah. Di dalam ajaran Buddha, seseorang bebas untuk memilih apa yang akan mereka jadikan makanan, baik itu sayuran maupun daging. Menkonsumsi makanan penting sekedar untuk bertahan hidup dalam jangka waktu lama. Mengenai hal ini Sang Buddha pernah berkata, "Semua makhluk hidup bertopang pada makanan".
Sebelum munculnya ajaran Buddha, ada banyak brahmana dan pertapa yang percaya bahwa kesucian hanya dapat tercapai dengan jalan mengatur dengan ketat apa yang mereka makan. Berdasarkan pandangan itu mereka hanya makan nasi dan sayuran dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan sering kali mereka tidak makan apa pun. Mereka percaya bahwa dengan cara ini, yang semacam penyiksaan diri, kesucian dapat tercapai. Sang Buddha menolak konsep penyucian diri dengan jalan semacam itu.
Sang Buddha tidak menganggap bahwa vegetarian merupakan praktik moralitas. Bahkan praktik vegetarian sama sekali bukan bagian dari moralitas (sila) yang merupakan salah satu faktor dari Jalan Mulia Beruas Delapan.
Sang Buddha menganjurkan kepada semua murid-Nya untuk mempraktikkan Dhutanga. Dhutanga secara harfiah diartikan sebagai latihan untuk menghancurkan kekotoran batin. Praktik vegetarian tidaklah termasuk dalam faktor dhutanga, yang berarti bukan merupakan faktor penting untuk mengakhiri penderitaan. Oleh karenanya, Sang Buddha tidak mendorong para murid-Nya untuk menjadi vegetarian. Tetapi Beliau menyarankan mereka untuk bersikap terkendali dalam hal makan.
Pada masa kehidupan Sang Buddha, dalam Kanon Pali (Pacittiya Pali, Vinaya Pitaka) disebutkan bahwa ada lima jenis makanan yang biasa disajikan sebagai menu sehari-hari dan juga biasa didanakan kepada para bhikkhu, yaitu nasi, bubur beras, terigu rebus, ikan, dan daging. Selain dari lima jenis makanan di atas, disebutkan pula sembilan jenis makanan yang lebih istimewa, yaitu makanan yang dicampur dengan mentega cair, mentega segar, minyak, madu, sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih.
Sembilan jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para bhikkhu diperbolehkan menerima makanan itu bila didanakan oleh para umat awam, namun mereka akan dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan tersebut kepada umat, tanpa disertai alasan tertentu, yaitu ketika mereka sedang sakit.
Dari hal-hal di atas dapat diketahui bahwa ikan dan daging sudah biasa dikonsumsi sejak masa hidup Sang Buddha. Sang Buddha dan para murid-Nya hanya makan dari hasil pindapatta. Sang Buddha sendiri memakan daging dan memperkenankan para murid-Nya berlaku serupa, dengan catatan bahwa daging tersebut tidak khusus disediakan atau dibunuh untuk Beliau dan para bhikkhu.
Sebagai pendukung, ada beberapa contoh yang membuktikan bahwa daging sudah biasa dikonsumsi sebelumnya dan Kanon Pali menyebutkan bahwa ada beberapa macam daging yang didapati dalam mangkok (patta) Sang Buddha.
Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu. Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya Pitaka).
Pada peristiwa lainnya, Sang Buddha dalam perjalanan menuju Kusinara (hari terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava, mempersembahkan makanan terhadap Sang Buddha, termasuk sukaramaddava di dalamnya. Sukaramaddava berarti daging babi berusia setahun yang dijual. Daging babi semacam ini lunak dan kaya gizi. Meskipun kata sukaramaddava ini ditafsirkan dalam banyak arti, namun arti seperti di atas didukung oleh Y.M. Buddhagosa, penulis kitab Komentar Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.
Di dalam bukunya Y.M. Buddhagosa menyebutkan penafsiran pengajar-pengajar lain tentang sukaramaddava. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah semacam susu beras atau puding beras susu; beberapa lagi menyebutkan bahwa itu adalah semacam obat penguat (tonik). Belakangan ini, beberapa pelajar vegetarian menyebutkan bahwa sukaramaddava adalah sejenis jamur.
Jadi kita mendapati adanya daging dalam mangkok Sang Buddha dan murid-Nya, tetapi Sang Buddha menganjurkan untuk menghindari memakan sepuluh jenis daging. Kesepuluh jenis daging tersebut adalah daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena (Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka).
Seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi sepuluh macam daging tersebut karena beberapa alasan yang secara ringkas tercantum di kitab Komentar Vinaya (Samattpasadika) seperti berikut ini. Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan.
Meskipun Sang Buddha mengizinkan para pengikut-Nya untuk menkonsumsi daging kecuali kesepuluh jenis di atas, Beliau memberlakukan tiga persyaratan, yaitu seorang bhikkhu tidak diperbolehkan menerima daging apabila:
1. Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh.
2. Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh.
3. Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk dirinya.
Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: "Siha, sang kepala suku, telah membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan daging tersebut (Siha-senaoati Sutta, Anguttara Nikaya).
Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme.
Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan memberitahukan tentang berita yang didengarnya. "Yang mulia, ada yang mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak."
Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ''O Jivaka, barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan banyak kejahatan karena lima hal:
dengan tujuan berdana, orang itu memerintahkan agar seekor binatang dibawa untuk dibunuh; binatang itu mengalami kesakitan dan derita ketika ditarik dengan paksa; perintah untuk membunuh binatang itu; binatang itu mengalami kesakitan dan derita ketika dibunuh; ia menyulitkan Aku dan murid-murid-Ku dengan mempersembahkan makanan yang tidak sesuai untuk kami." (Jivaka Sutta, Majjima Nikaya)
Sang Buddha mengizinkan untuk mengkonsumsi daging asalkan bebas dari ketiga syarat di atas, karena memakan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Karena itu Sang Buddha menolak kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk dari orang yang membunuh hewan.
Bhikkhu Devadatta, sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha, pada suatu ketika datang dan meminta Sang Buddha untuk tidak mengizinkan para bhikkhu mengkonsumsi daging dan ikan sepanjang hidup mereka, dan apabila hal itu dilanggar maka mereka dinyatakan bersalah. Dengan tegas Sang Buddha menolak permintaan Devadatta ini (Culavagga Pali, Vinaya Pitaka).
Sehubungan dengan konsumsi daging, Amagandha Sutta adalah sutta yang sangat penting. Sutta yang termasuk dalam Sutta Nipata, Khudaka Nikaya, ini untuk pertama kalinya dibabarkan oleh Buddha Kassapa dan kemudian dikatakan ulang oleh Buddha Gotama.
Pada suatu ketika, seorang pertapa yang menjalani vegetarian mendatangi Sang Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Sang Buddha bertanya kepada pertapa itu, "Apakah amagandha itu?", dan pertapa itu menjawab bahwa amagandha adalah semacam daging. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, dalam hal ini berkonotasi sesuatu yang busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha.
Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa sesungguhnya daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran Batin dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata:
Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging.
Menurut ajaran Buddha, pemurnian dari kekotoran batin (kilesa) adalah hal yang sangat penting untuk mencapai Nibbana. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membersihkan pikiran, kemurnian pikiran hanya dapat dicapai melalui pengembangan kebajikan dalam diri masing-masing, yaitu melalui pengembangan moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna). Kita tidak akan menjadi ternoda atau menjadi suci dengan makan daging atau sayuran.
Telah disebutkan di atas bahwa Sang Buddha tidak pernah menganjurkan para pengikut-Nya untuk menjadi vegetarian atau non-vegetarian, namun Beliau menyarankan mereka untuk bersikap terkendali dalam hal makan (bhojana mattannuta). Apa pun yang Anda konsumsi, baik daging maupun sayuran, Anda harus mengendalikan diri terhadap rasa dari makanan itu untuk mencegah timbulnya kemelekatan pada makanan tersebut (rasatanha).
Kemelekatan terhadap rasa dapat dikikis dengan jalan mengembangkan ketidakmelekatan terhadap makanan atau melalui perenungan tujuan makan (paccavekkhana).
Seorang bhikkhu seharusnya mengkonsumsi makanan bukan dengan tujuan kenikmatan, bukan untuk mendapatkan kekuatan khusus, bukan untuk mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik, dan bukan untuk mempercantik diri. Tetapi hendaknya sekedar demi kelangsungan hidup, memelihara kesehatan, dan memungkinkan mereka tetap bisa menjalankan kehidupan suci (Apannaka Sutta, Anguttara Nikaya).
Di dalam Puttamamsupama Sutta, Sang Buddha menjelaskan bagaimana seharusnya seorang bhikkhu merenungkan makanan mereka dengan mengibaratkan kabalikara sebagai daging anak sendiri. Semua jenis makanan, daging atau sayuran, disebut sebagai kabalikara.
Sang Buddha memberi perumpamaan, "Ada sepasang suami istri dengan satu-satunya anak bayi mereka sedang menempuh perjalanan jauh. Di tengah perjalanan mareka kehabisan bekal makanan dan tidak mampu meneruskan perjalanan tanpa makanan. Di tengah cekaman bayangan kematian karena kelaparan, gagasan buruk muncul dalam pikiran mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk membunuh bayinya dan memakan dagingnya. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dengan penuh kesedihan karena telah membunuh anak satu-satunya."
Setelah memberikan perumpamaan tersebut, Sang Buddha menjelaskan artinya melalui tanya-jawab, "O Bhikkhu, bagaimana pendapatmu? Apakah suami istri itu memakan daging bayi sendiri untuk tujuan kenikmatan (davaya), untuk mendapatkan kekuatan khusus (madaya), untuk mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik (mandanaya), atau untuk mempercantik diri (vibhusanaya)?" Para bhikkhu menjawab, "Tidak Yang Mulia. Mereka tidak akan memakan daging anaknya karena tujuan-tujuan itu." Sang Buddha bertanya lagi, "Apakah mereka makan hanya dengan tujuan agar dapat meneruskan perjalanan mereka?" "Benar, O Yang Mulia".
Menurut sutta di atas, hendaknya seseorang merenungkan makanannya seolah seperti daging anak sendiri. Dengan melakukan perenungan semacam ini seseorang bisa mengurangi kehausan atau kemelekatan terhadap rasa dari makanan.
Selanjutnya, mari kita bahas mengenai makanan ditinjau dari sudut pandang Empat Kesunyataan Mulia. Menurut ajaran Buddha, makanan termasuk materi, yang berkaitan dengan Agregat materi (rupa khanda). Agregat materi adalah suatu jenis penderitaan. Karena itulah makanan juga subjek dari penderitaan. Ini salah satu hal yang harus dimengerti secara benar (parinneyya). Makanan bukanlah suatu hal yang harus dihancurkan (na pahatabba). Nafsu terhadap rasa yang ditimbulkan oleh makanan itu adalah sebab dari penderitaan (dukkhasamudaya). Sebab inilah yang harus dihancurkan (phatabba). Hilangnya nafsu terhadap rasa dari makanan adalah berakhirnya penderitaan (dukkhanirodha). Inilah yang harus dicapai (sacchikatabba). Merenungkan makanan secara benar agar bebas dari kemelekatan terhadap makanan adalah jalan menuju berakhirnya penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada). Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam diri masing-masing (bhavetabba).
Menurut ajaran Buddha, berakhirnya penderitaan adalah hal yang paling penting. Hal ini hanya bisa tercapai dengan jalan melenyapkan hawa nafsu atau kehausan (tanha). Oleh karenanya, Anda harus berupaya untuk mencabut akar dari kehausan, kemelekatan terhadap rasa yang ditimbulkan oleh apa pun yang kita makan untuk mencapai akhir dari penderitaan. Nibbana adalah tujuan akhirnya. Anda bebas menjadi vegetarian ataupun non-vegetarian. Tetapi hal penting yang harus Anda upayakan adalah melatih diri untuk menghilangkan kemelekatan terhadap rasa dari makanan yang Anda makan sehari-hari.
Selasa, 02 Agustus 2011
RASA SAKIT MENDALAM

FILOSOFI HIDUP
Kedamaian pikiran tidak dapat diperoleh dari menangis dan meratap, justru sebaliknya, tindakan itu akan membawa menuju penderitaan yang lebih besar dan rasa sakit yang mendalam
LELUCON
Buku yang Menyedihkan
Suami: "Kenapa kamu menangis dik?"
Istri: "Aku habis membaca buku, Bang. Akhis ceritanya sungguh mengenaskan."
Suami: "Buku apa yang bisa membuatmu menangis seperti itu dik?"
Istri: "Buku tabungan Abang..."
TIPITAKA
Kisah Kapila dan Ikan
Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar dalam Kitab Suci (Pitaka). Karena sangat terpelajarnya, ia memperoleh kemasyuran dan keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain menunjukkan padanya apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu saja menjawab dengan pedas, “Berapa banyak yang kau tahu?” Hal itu menyiratkan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-bhikkhu yang tidak baik berada di sekelilingnya.
Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang ‘Peraturan Pokok’ bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila berkata, “Tidak ada apa yang dikatakan sebagai Sutta, Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah kamu mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau tidak,” dan lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang sedang berkumpul. Jadi, Kapila merupakan rintangan bagi pengembangan dan pertumbuhan Ajaran (Sasana).
Untuk perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam neraka (niraya) antara masa Buddha Kasapa dan Buddha Gotama. Setelah itu ia dilahirkan kembali sebagai seekor ikan di Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti disebutkan di atas, mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.
Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan karena sangat indah, mereka membawanya kepada Raja. Kemudian Raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak dan sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada Sang Buddha, mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang sedemikian tidak enak dan menusuk hidung.
Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha menjelaskan, “O Raja! Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, yang mengajarkan Dhamma pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia dilahirkan kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor ikan, ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain; ia juga mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an (Vinaya), dan mencaci maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk ini, ia dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk.”
Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya apakah ia mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada kehidupan yang akan datang. Ikan tersebut memberi isyarat bahwa ia akan masuk kembali ke alam neraka (niraya) dan ia dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka (niraya), untuk menerima akibat perbuatan buruk lain.
Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut menjadi terkejut. Pada mereka, Sang Buddha memberikan khotbah tentang manfaat mengkombinasikan antara belajar dengan praktek.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 334, 335, 336, dan 337 berikut ini :
Bila seseorang hidup lengah,
maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang senang mencari
buah-buahan di dalam hutan.
Dalam dunia ini,
siapapun yang dikuasai oleh
nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat
karena disirami dengan baik.
Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan
yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya,
seperti air yang jatuh dari daun teratai.
Kuberitahukan hal ini kepadamu:
Semoga engkau sekalian yang telah datang
berkumpul di sini memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu,
seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara
menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang
yang tumbuh di tepi.
VEGETARIAN
Apa yang terpikir ketika mendengar kata vegetarian? Mungkin Anda membayangkan pola makan yang hanya terdiri dari sayur dan buah, tanpa bahan hewani.
Kini, makin banyak orang menerapkan pola makan ini, demi alasan kesehatan. Namun ternyata pola makan vegetarian bisa memberi manfaat tambahan, berupa pengendalian bobot tubuh. Agar Anda lebih kenal dengan jenis pola makan ini, cermati uraian berikut.
Apakah vegetarian itu?
Vegetarian adalah pola makan yang menghindari berbagai produk hewani. Asalnya, pola makan ini merupakan bagian dari ajaran suatu agama. Tetapi sekarang, vegetarian sudah menjadi bagian gaya hidup. Kini terdapat beragam pola vegetarian.
*
Vegan
Aliran vegetarian yang paling ketat, sama sekali tidak mengonsumsi produk-produk hewani, termasuk telur dan susu. Ada juga vegetarian yang dijuluki fructarian, selain tidak mengkonsumsi produk hewani mereka juga hanya mengonsumsi hasil tanaman yang bisa dipanen tanpa menyebabkan kematian tanaman tersebut.
*
Lacto vegetarian
Pantang mengonsumsi semua produk hewani termasuk telur, tapi mengonsumsi susu dan olahannya.
*
Lacto ovo vegetarian
Tidak memakan produk hewani segar. Penganut Lacto ovo vegetarian tidak memakan daging atau ikan, namun masih mengonsumsi telur dan susu.
*
Semi-vegetarian
Mengonsumsi sayur-sayuran, juga ayam atau ikan, produk susu, dan telur. Hanya menghindari daging merah.
Vegetarian untuk diet
Menurut Profesor Tim Key dari Universitas Oxford, Inggris. Kenaikan berat badan pada seseorang dapat ditekan jika ia makan banyak karbohidrat dan sedikit protein. Hal inilah yang menyebabkan pola makan vegetarian relatif sesuai untuk mengendalikan pertambahan berat badan.
Selain itu menu vegetarian sangat menyehatkan karena hanya terdiri dari bahan makanan rendah lemak jenuh, rendah kalori, rendah gula, dan rendah garam, tetapi kaya akan vitamin dan mineral dari buah dan sayuran juga kaya serat.
Jadi tidaklah heran jika para pakar kesehatan sepakat, dari sekian banyak metode diet yang dianjurkan. Menghindari makanan dari daging dan mengubah perilaku makan menjadi vegetarian adalah cara diet yang paling tepat.
Kerugiannya bagi kesehatan
Meski menjadi vegetarian banyak untungnya, namun bukan berarti pola makan ini jauh dari masalah kesehatan. Di antaranya adalah
*
Kekurangan seng (zinc) dan vitamin B-12.. Namun, kondisi ini bisa diatasi dengan cara banyak mengonsumsi kacang-kacangan dan produk-produk dari kedelai.
*
Rentan terhadap anemia. Namun dengan meningkatkan asupan protein nabati serta mengkonsumsi suplemen zat besi maka anemia bisa teratasi.
Selasa, 22 Februari 2011
PENGENDALIAN UCAPAN
FILOSOFI HIDUP Kita tidak selalu dapat mengendalikan pikiran, tetapi kita dapat mengendalikan kata-kata, dan melalui latihan kita akan dapat mempengaruhi pikiran bawah-sadar kita, dan menjadi penguasa dari situasi yang ada
LELUCON
Kemana Cinta Pergi
Sepasang orang tua mengemudi di jalan raya saat mobil lain melewati mereka.
Wanita tua itu melihat penghuni mobil lain masih muda dan jelas sedang mabuk cinta. Gadis itu duduk sangat dekat dengan pacarnya saat mereka ada di jalan raya.
Hal ini menyebabkan wanita itu untuk berpikir kembali ke saat dia dan suaminya masih muda dan jatuh cinta, dan bertanya-tanya di mana kasih sayang yang telah hilang selama bertahun-tahun ini.
Akhirnya ia berkata kepada suaminya, "Ingat ketika kita dulu seperti pasangan muda itu? Kemana cinta itu pergi, Sayang?"
Pria tua itu dengan tenang menjawab, "Aku tidak bergeser kemana-mana..."
TIPITAKA
Kisah Murid-Murid
Para Petapa Bukan Pengikut Buddha
Murid-murid dari petapa-petapa Titthi tidak ingin anak-anak mereka bermain dengan anak-anak pengikut Sang Buddha. Mereka sering berkata kepada anak-anaknya, “Jangan pergi ke Vihara Jetavana, jangan memberi hormat kepada para bhikkhu dari suku Sakya!”
Suatu ketika, anak-anak laki Titthi tersebut sedang bermain dengan seorang anak laki-laki Buddhis di dekat pintu masuk Vihara Jetavana, mereka merasa sangat haus. Karena anak-anak dari murid-murid petapa Titthi telah diberitahu oleh orang tua mereka untuk tidak memasuki vihara Sang Buddha, mereka meminta anak laki-laki Buddhis itu untuk pergi ke vihara dan membawakan air untuk mereka. Anak laki-laki Buddhis tersebut pergi masuk ke vihara, memberi hormat kepada Sang Buddha. Setelah minum, ia menceritakan kepada Sang Buddha tentang teman-temannya yang dilarang oleh orang tua mereka untuk memasuki vihara Buddha
Sang Buddha berkata kepada anak laki-laki tersebut agar disampaikan kepada teman-temannya yang bukan Buddhis untuk datang dan minum di vihara. Ketika anak-anak laki tersebut datang, Sang Buddha memberi khotbah kepada mereka untuk menyesuaikan wataknya yang beraneka ragam. Sebagai hasilnya, anak-anak tersebut menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Ketika anak-anak tersebut kembali ke rumah, mereka menceritakan kunjungan mereka ke Vihara Jetavana dan tentang Sang Buddha yang telah mengajarkan Tiga Permata kepada mereka.
Karena kebodohannya, para orang tua anak-anak tersebut berteriak, “Anak-anak laki kita telah tidak setia terhadap kepercayaan kita, mereka telah dihancurkan,” dan seterusnya. Beberapa tetangga yang pandai menasehati para orang tua yang sedang meratap itu untuk berhenti menangis, dan sebaiknya mengirimkan anak-anak mereka kepada Sang Buddha. Mereka menyetujuinya, dan anak-anak tersebut beserta orang tuanya pergi menghadap Sang Buddha.
Sang Buddha mengetahui mengapa mereka datang. Beliau berkata kepada mereka dalam syair 318 dan 319 berikut ini :
Mereka yang menganggap tercela
terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela,
dan menganggap tidak tercela
terhadap apa yang sebenarnya tercela;
maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu
akan masuk ke alam sengsara.
Mereka yang mengetahui
apa yang tercela sebagai tercela,
dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela;
maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu
akan masuk ke alam bahagia.
Pada akhir khotbah Dhamma ini, semua orang yang hadir menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), dan setelah mendengarkan khotbah selanjutnya dari Sang Buddha, mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.
VEGETARIAN
Kota vegetarian pertama
Ghent, sebuah kota di Belgia ini akan mencatatkan prestasi sebagai kota vegetarian pertama di dunia. Meski tidak setiap hari, akan ada satu hari per pekan saat penduduknya tidak memakan daging.
Hari Vegetarian itu dicanangkan mulai pekan ini. Seluruh kota, mulai dari warga hingga staf pemkot dan dewan kota harus mau berpartisipasi dalam program ini. Mereka menyebutnya dengan Veggie Day.
Kota Ghent melakukannya karena imbauan dari PBB yang mengatakan ternak merupakan penyebab dari seperlima emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Kota pelabuhan itu berharap mereka bisa mengurangi jejak karbon sekaligus mengurangi obesitas.
“Pejabat pemerintah dan politisi akan menjajal Veggie Day terlebih dahulu. Baru kemudian anak-anak sekolah akan memulainya pada September mendatang,” demikian pernyataan Dewan Kota Ghent yang dilansir AFP, Rabu (13/5).
Untuk kepentingan itu, pemerintah kota telah membagikan sekitar 90 ribu peta yang disebut dengan veggie street map. Penduduk bisa menggunakannya untuk menemukan tempat memperoleh bahan-bahan makanan vegetarian atau restoran vegetarian.
Jumat, 18 Februari 2011
Pikiran Tenang
FILOSOFI HIDUP Belajarlah untuk memiliki pikiran yang tenang. Dengan pikiran yang tenang, anda akan benar-benar menguasai diri sendiri, entah dalam situasi atau kegalauan apa pun yang anda hadapi. Anda akan memahami bahwa demikianlah kehidupan di dunia ini, jadi anda tidak akan takut atau cemas
LELUCON
Hadiah Perpisahan Guru TK
Saat itu adalah akhir tahun sekolah, dan seorang guru TK sedang menerima hadiah dari murid-muridnya. Putra pemilik toko bunga memberinya hadiah. Guru menggoyangkan kado itu, memegangnya di atas kepala, dan berkata, "Aku yakin aku tahu apa itu. Beberapa bunga.."
"Itu benar" anak itu berkata, "tapi bagaimana kau tahu?"
"Oh, hanya menebak," katanya.
Murid berikutnya adalah putri pemilik toko permen. Guru memegang hadiah itu, menggoyangnya, dan berkata, "Aku yakin aku bisa menebak apa itu. Sebuah kotak permen."
"Itu benar, tapi bagaimana kau tahu?" tanya gadis itu.
"Oh, hanya menebak," kata gurunya.
Hadiah berikutnya adalah dari anak pemilik toko minuman keras. Guru memegang paket itu, tapi paket itu bocor. Dia menyentuh setetes kebocoran itu dengan jarinya dan menyentuh ke lidahnya.
"Apakah anggur?" ia bertanya. "Tidak," jawab anak itu, dengan gembira.
Guru mengulanginya, mengambil cairan dari kado yang bocor itu ke lidahnya.
"Apakah sampanye?" ia bertanya.
"Tidak," jawab anak itu, dengan lebih banyak tersenyum.
Guru mencicipi lagi sebelum menyatakan,
"Aku menyerah, apa itu?"
Anak itu menjawab, "Itu anak anjing!"
TIPITAKA
Murid-murid dari petapa-petapa Titthi tidak ingin anak-anak mereka bermain dengan anak-anak pengikut Sang Buddha. Mereka sering berkata kepada anak-anaknya, â€Å“Jangan pergi ke Vihara Jetavana, jangan memberi hormat kepada para bhikkhu dari suku Sakya!â€
Suatu ketika, anak-anak laki Titthi tersebut sedang bermain dengan seorang anak laki-laki Buddhis di dekat pintu masuk Vihara Jetavana, mereka merasa sangat haus. Karena anak-anak dari murid-murid petapa Titthi telah diberitahu oleh orang tua mereka untuk tidak memasuki vihara Sang Buddha, mereka meminta anak laki-laki Buddhis itu untuk pergi ke vihara dan membawakan air untuk mereka. Anak laki-laki Buddhis tersebut pergi masuk ke vihara, memberi hormat kepada Sang Buddha. Setelah minum, ia menceritakan kepada Sang Buddha tentang teman-temannya yang dilarang oleh orang tua mereka untuk memasuki vihara Buddha
Sang Buddha berkata kepada anak laki-laki tersebut agar disampaikan kepada teman-temannya yang bukan Buddhis untuk datang dan minum di vihara. Ketika anak-anak laki tersebut datang, Sang Buddha memberi khotbah kepada mereka untuk menyesuaikan wataknya yang beraneka ragam. Sebagai hasilnya, anak-anak tersebut menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Ketika anak-anak tersebut kembali ke rumah, mereka menceritakan kunjungan mereka ke Vihara Jetavana dan tentang Sang Buddha yang telah mengajarkan Tiga Permata kepada mereka.
Karena kebodohannya, para orang tua anak-anak tersebut berteriak, â€Å“Anak-anak laki kita telah tidak setia terhadap kepercayaan kita, mereka telah dihancurkan,†dan seterusnya. Beberapa tetangga yang pandai menasehati para orang tua yang sedang meratap itu untuk berhenti menangis, dan sebaiknya mengirimkan anak-anak mereka kepada Sang Buddha. Mereka menyetujuinya, dan anak-anak tersebut beserta orang tuanya pergi menghadap Sang Buddha.
Sang Buddha mengetahui mengapa mereka datang. Beliau berkata kepada mereka dalam syair 318 dan 319 berikut ini :
Mereka yang menganggap tercela
terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela,
dan menganggap tidak tercela
terhadap apa yang sebenarnya tercela;
maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu
akan masuk ke alam sengsara.
terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela,
dan menganggap tidak tercela
terhadap apa yang sebenarnya tercela;
maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu
akan masuk ke alam sengsara.
Mereka yang mengetahui
apa yang tercela sebagai tercela,
dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela;
maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu
akan masuk ke alam bahagia.
apa yang tercela sebagai tercela,
dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela;
maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu
akan masuk ke alam bahagia.
Pada akhir khotbah Dhamma ini, semua orang yang hadir menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), dan setelah mendengarkan khotbah selanjutnya dari Sang Buddha, mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Pola makan vegetarian dapat membantu melawan kanker. Demikian hasil penelitian yang dilakukan Yayasan The Angiogenesis, seperti dilansir Zee News.
Penelitian tersebut menemukan bahwa vegetarian yang sebagian besar terdiri dari sayur-sayuran dan buah-buahan mengandung antioksidan yang dapat memperlambat, bahkan menghentikan, proses angiogenesis yang sangat berpengaruh pada kanker. Angiogenesis adalah proses pembentukan pembuluh darah baru. Jika bermasalah, hal itu akan membantu perkembangan sel kanker yang tidak terkendali dan bersifat ganas.
"Vitamin atau zat-zat lain yang terkandung dalam sayuran maupun buah, seperti apel, jeruk, blackberry, tomat, dan labu jelas dapat menghambat angiogenesis," kata William Li, pemimpin Yayasan The Angiogenesis dan pakar kesehatan. "Dengan mengonsumsi buah atau sayuran tersebut, maka akan menghambat sel kanker merusak organ lain dalam tubuh."
Penelitian lainnya menemukan, pria yang mengonsumsi tomat segar atau produk olahannya dua sampai tiga kali dalam seminggu dapat mengurangi serangan resiko kanker prostat sampai dengan 50 persen.
Selasa, 28 Desember 2010
PIKIRAN TERKENDALI

FILOSOFI HIDUP
Orang yang bijaksana selalu berusaha menjaga pikirannya, sebab pikiran yang terkendali dengan baik akan membawa kebahagiaan
Orang yang bijaksana selalu berusaha menjaga pikirannya, sebab pikiran yang terkendali dengan baik akan membawa kebahagiaan
LELUCON
Supporter Sepak Bola Fanatik
Michael menonton pertandingan derby antara Manchester United dan Liverpool, Stadion Old Trafford itu penuh sesak dan hanya ada satu kursi kosong - di samping Michael.
"Siapa yang punya kursi ini?" tanya orang di kursi depan.
"Istri saya biasanya duduk di sini." Michael menjawab.
"Tapi mengapa dia tidak ada di sini?" tanya orang itu.
"Dia meninggal." Kata Michael datar.
"Jadi kenapa tidak Anda berikan tiket ke salah satu teman atau pasangan Anda?"
"Mereka semua pergi ke pemakaman..." Kata Michael.
TIPITAKA
Kisah Bhikkhu yang Keras Kepala
Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang merasa sangat menyesal karena telah memotong rumput tanpa sengaja. Ia mengakui hal tersebut di hadapan bhikkhu lain. Bhikkhu yang mendapat pengakuan kesalahan tersebut mempunyai sifat sembrono dan keras kepala, ia memandang remeh terhadap kesalahan kecil.
Maka, ia menjawab kepada bhikkhu pertama, â€Å“Memotong rumput adalah pelanggaran yang sangat kecil. Jika kamu menyatakan dan mengakui kesalahan kepada bhikkhu lain, secara otomatis kamu bebas dari kesalahan. Tak ada yang perlu dirisaukan.†Setelah mengatakan hal itu, ia sendiri mencabut segenggam rumput dengan kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia hanya menganggap ringan terhadap pelanggaran yang tak berarti ini. Ketika Sang Buddha diberitahu tentang hal ini, Beliau menegur bhikkhu yang sembrono dan keras kepala itu.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 311, 312, dan 313 berikut ini :
Bagaikan rumput kusa, bila dipegang secara salah
akan melukai tangan;
begitu juga kehidupan seorang pertapa,
apabila dijalankan secara salah
akan menyeret orang ke neraka.
akan melukai tangan;
begitu juga kehidupan seorang pertapa,
apabila dijalankan secara salah
akan menyeret orang ke neraka.
Bila suatu pekerjaan dikerjakan dengan seenaknya,
suatu tekad tidak dijalankan dengan selayaknya,
kehidupan suci tidak dijalankan dengan sepenuh hati;
maka semuanya ini
tidak akan membuahkan hasil yang besar.
suatu tekad tidak dijalankan dengan selayaknya,
kehidupan suci tidak dijalankan dengan sepenuh hati;
maka semuanya ini
tidak akan membuahkan hasil yang besar.
Hendaklah orang mengerjakan sesuatu
dengan sepenuh hati.
Suatu kehidupan suci
yang dijalankan dengan seenaknya
akan membangkitkan debu nafsu
yang lebih besar.
dengan sepenuh hati.
Suatu kehidupan suci
yang dijalankan dengan seenaknya
akan membangkitkan debu nafsu
yang lebih besar.
Pada akhir khotbah Dhamma, bhikkhu yang sembrono dan keras kepala itu menyadari pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan seorang bhikkhu, dan mematuhi secara ketat ‘Peraturan Pokok’ (Patimokkha) bagi para bhikkhu. Beberapa waktu kemudian, melalui praktek meditasi ‘Pandangan terang’ , bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat.
VEGETARIAN
Mengapa Lea Michele Dan Natalie Port Jadi Vegetarian
Kelihatannya menata meja di restoran bistik jadi agak lebih mudah belakangan ini! Kecenderungan diet teranyar di Hollywood melarang orang makan daging merah ... dan daging ayam juga. Itu berlaku buat setiap makanan lain dengan bahan dasar hewani --semuanya atas nama pola makan yang bersih dan janji tubuh yang lebih sehat.
Namun apakah pola makan itu memang benar adanya? Atau apakah selebriti yang jadi pengikutnya seperti Lea Michele, Natalie Portman dan Kellie Pickler menghadapi resiko kekhawatiran kesehatan?
Pola makan vegetarian pada dasarnya berarti hanya mengkonsumsi makanan dengan bahan dasar tanaman seperti sayuran, buah, buncis, dan biji-bijian. Karena makanan itu rendah kalori, "menghitung kalori sebenarnya tak perlu!", kata ahli gizi selebriti Cynthia Pasquella.
Sebenarnya, berbagai studi telah memperlihatkan bahwa pengikut pola makan yang berdasarkan tanaman secara mencolok lebih kurus, kata Pasquella. Klien ahli gizi selebriti tersebut meliputi Debra Messing (42 tahun) dan Sandra Bullock (46 th).
Manfaat lain kesehatan dari pola makan vegetarian meliputi kadar kolesterol dan tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu, peningkatan nutrien seperti vitamin A, B dan E sangat bagus buat kulit, dan meningkatkan rambut yang lebih sehat serta kuku dan meningkatkan energi.
Jadi nggak heran kalau Lea Michele (24 tahun), yang harus melakukan pelatihan selama berjam-jam buat tayangan "Glee", memuji makanan vegannya karena membantu dia menjalani jadwal yang padat.
Langganan:
Postingan (Atom)


